Mari kita bicara soal penulisan. Sekarang ini banyak yang nanya gimana caranya saya bisa nulis tentang macam-macam hal di blog dan bahkan pernah kerja jadi freelance writer untuk blog asing yang membahas tentang keuangan trus dapet $ dari situ padahal sama sekali nggak pernah kerja di bidang keuangan. Kok bisa? Pertanyaan yang sama ditanyakan juga beberapa tahun yang lalu saat saya menulis Je M'appelle Lintang yang setting-nya di Paris. Kok bisa, belum pernah ke Paris tapi nulisnya seakan-akan udah tinggal lama disana? Jawaban atas semua pertanyaan itu adalah: RISET. Sekarang dengan adanya internet (dan Google), melakukan riset itu nggak sesulit jaman dulu. Ada teknik-tekniknya agar semakin mudah melakukan pencarian dan ternyata ada banyak cara lain melakukan riset di internet, nggak cuma melalui search engine aja. Trus teknik risetnya gimana? Gimana biar jadi from zero to hero? Gimana caranya mulai dari mempersiapkan bahan riset, mengumpulkan hingga menuliskannya? Untuk menjawabnya, saya membuat sebuah Ebook 80 halaman berformat PDF yang berjudul Inspirasi.Net ^^ Apakah Ebook ini gratis? Iya gratis, tapi hanya 2 bab pertama. Sisanya beli ya hehehe. Harganya Rp 50.000 Kalau biasanya jualan buku paperback, sekarang jualan digital book, new experience for me :D Karena masih mengukur kemampuan saya sendiri dalam memproduksi Ebook, maka untuk 10 orang pertama yang beli Ebook ini, saya kasih special price Rp 10.000 dengan catatan habis membaca harus me-review Ebook ini ^^V

Namanya cewek... baru ketemu sebentar aja bisa ngobrol panjaaang lebaar tentang macem-macem hal terutama tentang kehidupannya sendiri yang berhubungan dengan orang lain. Mulai dari masalah anak, pembantu, pacar, suami, hingga gosip artis terbaru pasti langsung keluar di 5 menit pertama. Pantesan, gue perhatiin, temen gue kok pinter banget bikin gue ngomong sebanyak ini. Ternyata dia mengulik-ngulik masalah perkawinan: salah satu topik yang disenangi wanita (termasuk gue). Akhirnya langsung ngobrol deh panjang dan lama :D
Gue sendiri termasuk orang  yang cukup pendiam (jangan protes :P) dan agak lebih laki-laki dibandingkan wanita pada umumnya. But still, gue juga butuh teman curhat! Curhat sama suami memang bisa juga, tapi nggak tau kenapa kalo curhat sama sesama cewek rasanya lebih asyik aja.
Temen wanita bisa punya sudut pandang yang sama dan mengerti banget gimana harus bersikap, sehingga proses curhat biasanya berjalan lanjar dan damai. Sering ngalamin kan kalo curhat ke cowok itu ujung-ujungnya berantem? Soalnya mereka suka coba ngasih solusi yang kadang-kadang nggak kita butuhkan hihi. Come on guys, we just wanted you to listen :P
Saat ini saya memiliki 3000 ++ friends di Facebook dan beberapa social networking website lainnya. Tapi sesungguhnya yang truly  my bestfriends itu jumlahnya sangat sedikit sekali. Ternyata untuk curhat dan having a very close relationship with a woman bestfriend, we still need a chemistry.
Jadi wondering, dengan kondisi masyarakat urban yang cenderung cuek dan berirama cepat seperti sekarang, bisa nggak ya teman-teman yang lain dengan mudah mendapatkan curhat buddy? Someone that we could contact anytime (even in the middle of the night). Someone who will listen to us when we're having a heartbreak, happy to get a raise, sad because of stupid family things, give us tips to cure the pimples and watch our food while we're on diet, comfort and lift us up when we need the most. Kayaknya semua itu udah semakin susah ditemukan deh apalagi di kota besar!
I once asked my friend, "Kok di Indonesia nggak ada ya layanan hotline curhat gratis?"
Mungkin dengan curhat, teman kita batal pake narkoba.
Mungkin dengan curhat, teman kita nggak jadi bunuh diri.
Mungkin dengan curhat, masa depan sahabat kita bisa diselamatkan.
Mungkin dengan curhat, sahabat kita bisa menjadi orang yang lebih baik.
Yuk teman-teman, kita bersatu padu dan membuka diri untuk menjadi tempat curhat yang tulus bagi sister yang lagi butuh pertolongan.
Kamu  juga mau kan jadi teman curhat saya? ;)
This post is dedicated to my bestfriend yang telah memutuskan meninggalkan gemerlapnya kota Jakarta. I missed you!
Orignal From: Wanted: Teman Curhat
Biar apapun pandangan penyokong yang mempamerkan sikap dan tingkah laku yang amat 'mengembang'kan (dalam istilah kelantan = menjijikkkan) ketika perlawanan akhir Kelantan vs N.Sembilan, Pasukan Kelantan patut berbangga kerana telah sampai ke tahap ini dalam 39 tahun. Kegagalan dilangkah akhir bukan bererti kekalahan tetapi hanya dugaan menguji ketahanan mental dan kekuatan budi pemian dan penyokong. Ternyata kelantan GAGAL pada kacamata ini.
Tingkah laku membakar bendera semasa perlawanan sedang rancak berjalan, membaling objek-objek ke padang, membaling bom asap dan paling tidak dapat di terima adalah membakar kerusi-kerusi di dalam stadium ketika perlawana masih rancak berjalan menggambarkan betapa rakyat Kelantan sebenarnya RAPUH di dalam dan bukan kental sebagaimana yang disangkakan, walaupun negeri ini diterajui oleh seorang Tok Guru yang disegani di kalangan PAS mahupun UMNO.. pendeknya semua rakyat Kelantan termasuk dari keturunan lain..
Penyokong-penyokong ini patut faham bahawa mereka adalah peyumbang kepada kegagaan Pasukan Kelantan. Keyakinan yang tidak realistik dan melampau seolah-olah di alam mimpi oleh penyokong-penyokong memberikan tekanan hebat kepada pemain.. apatah lagi bermain di Stadium Bukit Jalil dengan 85,000 penononton, 2/3 adalah penyokong Kelantan. Janji-janji habuan dan ganjaran, termasuk pemberian iktiraf awal kepada Indra Putra dan menjadikannya kapten pada perlawanan akhir seolah menidakkan The Wonder Workers iaitu pemain-pemain lain yang telah bangun dari dalam lumpur dan bercawat kote bagi menggengam peluang ini seolah ditidakkan. Perlu diingat bahawa Indra Putra tidak bermain semasa Kelantan membelasah Perlis 3-1 di Indra Kayangan. Mengapa ditidakkan usaha pemain-pemain lain di peringkat akhir di mana amat perlu maintain kekuatan psikologi pemain-pemain?? Tekanan psikologi begini di saat akhir amat tidak baik..
Penyokong juga patut sedar bahawa untuk sampai ke Bukit Jalil, berapa banyak wang sudah dihabiskan dengan menaiki kenderaan awam atau sendiri, penginapan, kos tiket Rm20 dewasa.. Amatlah wajar terus memberikan sokongan di kala pemain-pemain memerlukan sokongan psikologi dan bukan hanya ketika pemain sedang cemerlang di padang.. Jika nak berkelakuan begini baik tengok di TV sahaja.. Kalau marah sangat boleh baling objek atau bom kat TV sendiri, tak ada orang yang marah kecuali isteri dan anak2 yang tidak dapat menonton TV lagi.
Perlu diingat bahawa pasukan lawan juga telah melepasi halangan-halangan untuk sampai ke situ. Mereka juga ada kekuatan yang tersendiri. Bagi penyokong, ketibaan ke Bukit Jalil adalah seolah-olah sudah memenangi Piala dan sudah tidak sabar hendak melihat piala dijulang.. Baik beli piada kat Rex Trading dan julang sesama sendiri.. Berulang kali tingkah laku penyokong kelantan merugikan Kelab sehingga wang yang sepatutnya digunakan untuk latihan dan insentif terpaksa diguna untuk bayar kompaun..
Paling memalukan ialah tingkah laku penyokong berlaku di hadapan Pemangku Raja; Tengku Faris Petra, Dato Mustapa, Tg Ahmad Rithauddeen, Dato Awang Adib,Dato' Annuar Musa dan lain-lain yang datang memberikan sokongan moral kepada Pasukan Kelantan.. Jurang tingkah laku amat ketara.. dari pemimpin yang berwibawa, Tok Guru, Pengurus-pengurus Korporat yang besae spt Dato' Nazmi Salleh dan yang grass root yang seolah-olah masih lagi berada sebelum Zaman Jepun..
Apapun satelah ramai dari penyokong-penyokong meninggalkan stadium dan Kelantan down 3-0, barulah nampak kelantan mencapai rentak mereka sebelum ini. Serangan-serangan di sebalah kanan sentiasa merbahaya dan banyak peluang diperolehi. Ianya digagalkan oleh barisan pertahanan N9 yang kental. Ahmad Shukor tonggak yang menggagalkan serangan balas Kelantan. Ddari sini kita tahu bahawa Kelantan selesa sebagai UNDER DOG dan tidak sebagai pasuikan harapan. Hanya satelah jatuh 3-0, dan nampak tiada harapan lagi barulah SEMANGAT KELANTAN SEBENAR muncul; semangat yang boleh melakukan apa sahaja.. sampai Cawat Kote..Sepakan cantik free-kick Indra Putra dengan planning yang amat baik menggambarkan seolah-olah pemain kebangsaan Brazil yang beraksi.. memberikan pengubat kepada luka kelantan. Jika 3-0, ianya amat pedih sekali.. Apapaun SYABAS PASUKAN KELANTAN..
Hari sabtu pagi yang cerah ini dapet kesempatan ikut nonton film persembahan terbaru dari Mizan Production dan Smaradhana Production:Â Emak Ingin Naik Haji (EINH) dari Imazahra. Thanks very much dear for your kind invitation ;)Â Film ini diangkat dari cerpen karya Asma Nadia berjudul sama.
Dari cerpen diangkat menjadi film... hm... banyak lemaknya nggak yah? Pikir saya. Tapi as usual, dengan pembawaan tenang dan nothing to lose, I watched the movie.
Film ini bercerita tentang seorang Ibu yang biasa dipanggil Emak, yang mempunyai cita-cita mulia untuk naik haji, meskipun hidupnya kurang mampu. Sang anak lelaki (Zein) yang ditinggal istri karena terbelit masalah keuangan, memahami sekali niat dan maksud ibunya, namun nyaris tak bisa apa-apa untuk mewujudkan mimpi ibunya karena ia juga kekurangan. Kemudian Zein didorong rasa putus asa dan sayang ke ibunya, mencoba berbagai cara untuk memberangkatkan ibunya ke Tanah Suci, salah satunya dengan berbuat hal yang tak terpuji.
Intrik yang kemudian timbul adalah saat membandingkan niat Emak yang tulus untuk ke tanah suci, dengan niat tetangganya yang sudah berkali-kali ke Mekkah (kali ini hanya untuk Umroh dengan artis) dan niat salah satu pemimpin partai politik yang ingin menang dalam pemilu dengan menggunakan gelar Haji. Tiga cerita ini kemudian bermuara pada satu titik yang sama untuk memberikan kesimpulan akhir pada cerita. Katanya sih, Mbak Asma terinspirasi dengan plot film Babel-nya Brad Pitt.
Setelah nonton 10 menit, I thought, siapa nih penulis skenarionya?! Skenarionya ditulis dengan simple tapi sarat makna, menyentuh dan fat-free oleh dynamic duo Adenin Adlan & Aditya Gumay. Tambah salut setelah tahu Adenin Adlan bikinnya cuma 3 hari. Mak... I've been there, and know exactly that nulis skenario itu susyahnya mincha ampyyunn *Cinta-Laura-mode-on*
Skenario ini kemudian dieksekusi dengan keren oleh sang sutradara (yang menjanjikan), Aditya Gumay, serta akting hebat  pemain-pemain watak seperti Aty Kanser (Emak), Reza Rahadian (Zein, sang anak), Didi Petet, Henidar Amore, Cut Memey, Ayu Pratiwi, dll, membuat film ini mengalir mantap tanpa dipaksakan. What a brilliant movie supported by the greatest team!
Beberapa kali gue denger Ima terisak dari kursi sebelah. Film ini memang sangat menguras air mata. Ima nanya dengan sewot, "Kok kamu nggak nangis sih, Li?" Hehehe. Maap, masalah air mata memang sulit. I don't even cry on my wedding, so.... :D (Kayaknya kelebihan hormon testosteron). Tapi bukan berarti nggak nangis sama sekali. Bagian cerita yang menyebutkan tanah suci Mekkah, Ka'bah, foto-foto Mekkah & Ka'bah paling menyentuh buat saya. I missed them like an old friend. Kapan yah kesana? Emak benar-benar membuat saya kembali me-review batas kemampuan saya (financially) dan mulai berpikir untuk membuka tabungan Haji. Apakah seharusnya saya sudah mampu? Salah satu quote dari film ini terasa begitu mengena, "Ke tanah suci menunggu panggilan? Panggilan Allah? Mati dong...!"
Satu 'ups' nya movie ini sebenarnya bukan di dalam movie-nya itu sendiri tapi di sarana promosi/graphic/brosur-nya yang menampilkan foto yang menurut saya sedikit spoiler sehingga penonton bisa menebak arah ceritanya.
Anyway, setelah film selesai dengan cantiknya, saya, Ima dan teman-teman langsung merubungi Mbak Asma, Emak (Aty Kanser), Adenin Adlan dan Aditya Gumay untuk foto bersama sekaligus mengucapkan selamat atas kerja luar biasa mereka. So happy buat Mbak Asma yang karyanya bisa diwujudkan sebagus tulisannya. Benar-benar impian semua penulis untuk memfilmkan karyanya seperti ini. Emak (Aty Kanser) & Zein (Reza Rahadian), congratulations, the chemistry is unbelieveable! Benar-benar seperti ibu dan anak yang saling menyayangi dan menjaga satu sama lain. And last but not least, Adenin Adlan dan Aditya Gumay, you're the star, you're the best! Semoga bisa terus berkarya menghasilkan masterpiece untuk menginspirasi kita semua ;)
So, I really hope you could also watch film Emak Ingin Naik Haji mulai 12 November 2009 bersama seluruh keluarga, karena each and every family member will get different inspiration & message from this movie. Believe me!
Kalian yang menonton serta membeli buku Emak Ingin Naik Haji juga telah ikut serta dalam membantu para soleh dan solehah yang ingin ke Mekkah namun kondisi ekonominya masih belum memungkinkan. Awesome!
Jadi, kamu mau daftar Haji dulu apa nonton filmnya dulu? :D
Simak behind the scene pembuatan film Emak Ingin Naik Haji di Blog Mbak Asma
Orignal From: Film Emak Ingin Naik Haji

A decent looking teenager sit beside me while I was waiting for a  taxi at Plaza Senayan. He blurted, "Sister, do you have a job for me?"
I winked at him for a second, still playing with the iPhone. This is Jakarta. Where you could meet all kind of people that will do anything to get into your pocket. I'm just as skeptical as 99% of Jakarta people. So I asked him almost with zero interest, "What kind of job do you need?"
"Anything," He said almost instantly.
"Where are you from?" I asked him, while updating my status on Twitter.
"I came from Bogor... I go to Jakarta, to get a job...." He said. His eyes look tired and sad.
"What did you do for a living in Bogor?"
"I worked on printing company... Engkoh back to Java and close his business...," his eyes wandering.
I nodded. Thinking hard. Analyzing.
"Astaghfirullah, it's dark already...," he smiles bitterly. "It's my second day in Jakarta, sister. Yesterday I stayed in a mosque. I must get Rp 175.000 for my parents in Bogor."
"What for?"
He mumbles stuff, bills related, that I can't understand. I decided to stay quiet.
"I went to Palmerah market to get a job. Helping people carry their stuff. I got a client and he paid Rp 3.000. But somebody came and grabbed me by my shirt collar. He wanted me to go away." He told me his story with very expressive way.
"Oh no, you can't just go to Jakarta and jumped in the traditional market. Premans are everywhere!" I said to him with concern.
"Yes... premans are truly there, sister. I thought they only in movies." He said, almost chuckle. Laughing his own pain.
I sit still, drowning in my own thought. Thinking. Try to decide. Is he for real? Should I help him?
"Sister... people in the taxi line... it must be easy for them to get Rp 175.000 right?" He said, almost wondering.
"Of course, they're rich people."Â We watched as Alphards, Ferraris, Mini Cooper, Volvo, BMW, etc come and go picking their owners.
"How did you get here from Palmerah?" I asked him after minutes of silence.
"I walked," he smiles and touching his torn shoes spontaneously.
Silent sigh in my part. I have decided to help him. But how much? All that he said he needs? Or part of it? Or...
"Sister, I must go now...," he said, smiling. He didn't know where to go for sure.
"Wait! Are you gonna go home?" Â Stupid question.
"Of course sister, after I get that Rp 175.000. I still have Rp 7.000 in my pocket. I can go back by train once I collected the money...," then he excused himself once again.
"Wait! Come here!"
I put my iPhone and grab my purse. I decided to help him, all that he needs. I don't want to regret my entire life for not helping him.
"Take care of yourself. And go home as soon as possible! It's very dangerous outside."
He's  not a street kid. He's risking his life for Rp 175.000 because his family need it so badly.
He gasps and whisper, "Alhamdulillah... thank you very much sister...."
I nodded quickly. Refused to see his eyes. Then he walked away.
I let out a heavy sigh. If he's telling the truth, then he just one out of thousands people trying to find fortune in Jakarta. Some made it, some lost in the way.
As the taxi drove us away, I asked to Jakarta: how many dreams can you made come true tonight?
Orignal From: Jakarta: City of Hope

The plane has landed at the Adi Sucipto airport before we can even snooze a little. Me and hubby usually go to Jogja (or Daerah Istimewa Yogyakarta) either by train or by car from Semarang for a family occassion. But this time, we're going to enjoy our time like a honeymoon couple! :D It's lucky for us to get Rp 50.000 ($5) AirAsia one-way ticket for 2 person to Jogja (it's Rp 25.000 each!). It's basically Rp 0 but we paid for luggage and Go-Insure. Even our taxi fare from house to Soekarno-Hatta airport is more expensive! :D
We walked hand in hand like a true love bird, seeking for a hotel, outside the airport. Get 1 room for Rp 300.000 ($30) at the Amanda Hotel, Sosrowijayan area. It's a tourist area around Malioboro street (the most famous street in Jogja). It's kinda 'low-budget', but hey, we're backpacking-honeymoon-tourists remember :P

Forget rented cars or taxis, we use Trans Jogja. It's Rp 3000 each ($3) and we're arriving safe and sound in Malioboro Street. Soon after we hit Malioboro, those becak man (abang becak) already calling our names, offering service to take us around the neigbourhood. One of them got really agressive but look like a good guy, so we're going with his Becak.


I don't know if we getting more fat because the Becak just won't fit us two, but we managed to squeeze ourself in :P First stop was to have Gudeg for breakfast at Wijilan street. Gudeg is Jogja's popular food. Tastes sweet, suitable for Javanese taste.
Then the Becak Man, Mr. Yono, took us to what he said the original DAGADU store. Dagadu is one of Jogja famous brand for t-shirt. Damn, I really eat the bait without thinking. Bought 4 over-priced tees there, that turned out non-original. He took us to several batik places and Bakpia that also overpriced. OMG, I know this things happened in tourist area, but in Jogja? Never occurred to my mind before, that these nicest people would do such scams.

So, just be careful when deciding to buy things, but other than that, Jogja has much to offer. Just take the cultural experience to the max. Ask them to take you around the city, historical building, Keraton, etc. Of course you could also go to temples like Prambanan and Borobudur and take photos there, then watch Ramayana Ballet at Prambanan in the evening to have unforgettable moment of your life.


Me? Just going around Malioboro, and we went to Taman Sari as well. Taman Sari is the place where the King used to watch his girlfriends swimming and eventually will 'have fun' with one of them. The King's children sometime spend and enjoy their time in Taman Sari as well. It's a truly nice place that nowadays are used as the setting for couple to take pre-wedding photos.


Shopping for batik was my next schedule. Beringharjo market is the place to search for various kind of Batik. Because it was very hot in Jogja and my husband was starting to sweat so badly, I feel bad to let him suffer. That's why after 2 batiks, we took off and strolling down the street to Shopping.



Shopping is the place to shop used text-books, regular books, magazine, etc in Jogja. I was surprised to see it so clean and big, unlike the regular traditional market type like it was before. We spent 2 hours in Shopping, try to find our childhood memories in these old Manga like Mari Chan, Swan, City Hunter, Pop Corn, etc :D
Beside Shopping, we visit the new "Taman Pintar" playground where kids can play and learn from musical instrument, to Physics theory. Wow! Real nice!


Just like an old couple, we lost our energy and fell asleep for 3 hours. Waking up, it's already 9 PM. I still can't believe we're in Jogja and we're sleeping instead of going somewhere. I wanted to go to my old homestay when I was in Jogja. But yeah, can't happened. So, we went out to eat fried duck at Malioboro. The street musician sing the unofficial Jogja Song by KLA Project, "Pulang ke kotamu... ada setangkup haru dalam rindu...." and a street artist capturing our moment with his illustration (Hey! My lips is not that big hehe). So... damn... romantic... and emotional as well.
What a day... we walked back to our hotel holding hands like teenager, smiling and greeting every other tourists, just because we're one of them. Crossing the Malioboro street, I made one final stop at one of the Batik stands. This time, I won't let my money spilled. "Give me this batik for Rp 15.000, it's final offer!" And when she handed me the batik shirt, I smirked. Now, my Jogja trip has come full circle.
Orignal From: Jogja Trip
Di dalam perkhidmatan Kerajaan sekarang, ini adalah proses yang perlu dilalui oleh setiap pegawai, meniti tangga-tangga yang tersusun dari TK1 hingga TK6. Selepas TK6 faktor lain yang diambilkira untuk kenaikan pangkat ke peringkat tertinggi di dalam perkhidmatan Kerajaan.
Walaupun banyak bantahan dari kakitangan-kakitangan dengan pelbagai sebab dan alasan, saya berpendapat bahawa PTK ini amat penting sebagai 'yard stick' bagi menilai tahap kecekapan pegawai selaras dengan tangga tanggungjawab yang dipikul di dalam perkhidmatan. Ada yang menyatakan bahawa dia telah menjalankan tugas-tugas yang terlaksana dan menjadi pakar rujuk jabatan pulak di atas bidang tersebut dan siapa orang yang akan menilainya yang telah mencapai tahap berikut.. Ini adalah ego yang telah menjerumuskan Iblis ke kancah kebinasaan. Jika anda telah terbukti pakar, mengapa takut atau enggan untuk di nilai? Sudah tentu anda tidak ada masalah untuk lulus cemerlang... Silibus dan tahap kecekapan yang dikehendaki adalah mengikut ketetapan Jabatan anda sendiri..
Alhamdulillah saya telah melepasi 5 tahap dan sekarang berada di tahap 6. Semalam saya telah menghadiri Taklimat PTK 6. Sekarang ini silibus dibahagikan kepada 2; generik dan functional. Generik merujuk kepada kemahiran asas dan ini dinilai melalui `public speaking', kerja kumpulan (75% markah) dan penilaian personaliti. Fungsional merujuk kepada kemahiran di dalam tugasan dan ini dinilai melalui kertas tugasan individu, penilaian pengurusan kerja (SKT) dan kini diadakan Kertas Renungan, iaitu kemampuan pegawai menilai dan membuat keputusan di atas sesuatu perkara dalam jangka masa singkat.
Selepas ini kami diberikan masa 1 minggu untk persediaan, penyiapan Tugasan Individu dan Pengurusan Kerja. Kemudian kami akan berkampung di satu Hotel di Subang Jaya selama 5 hari untuk mengharungi Penilaian yang akan dilaksanakan oleh Panel 3 orang yang hebat-hebat (Kalau dah Jusa C ke atas tentulah hebat...).
Sekarang ini dengan kerja-kerja yang sedang dalam fasa kritikal pembinaan, kerja tambahan untuk projek lama selama 2 hari, appointment di Hospital, saya perlu menyediakan semua itu..
The future looks bleak... but... I'll survive, InsyaAllah I will... Pray for me brothers and friends...
Liza, I shall try to respond to your request for book review on this particular book but where to start really? This book is already titled 'brief' and his brevity from Chapter 1 to Conclusion Chapter is 191 pages!!! I have finished up to Chapter 3 which is based on Newtonian physics and Einstein's Relativity Theory. That itself is already mind boggling. Next he's moving on to QUANTUM MECHANICS which to many is like reading an alien language.. So Liza, why give me such torturous assignment.. Why? Why? Why?? Anyway, I'll try my darnest and please understand that you need to read the book itself to understand fully as Prof Hawkings start from the very basic understanding of Universe and develop his story along the historical line to the present state of understanding.
Chapter 1 starts with Our Picture of The Universe, followed by Space and Time in Chapter 2 and The Expanding Universe in Chapter 3. Here the picture of the Universe developed is basing on two great theorems; Newtons's Laws of Motion and Einstein's General Theory of Relativity. I will not dwell on the pre Newton's views though elaborated by Prof Hawkings.
The basic question asked is whether the universe in unchanging, hence time has no beginning and end or changing and beginning at a definite point; the beginning of time. Our picture of the universe is described by 2 partial theories; Newtonian Physics and Einstein's Relativity Theory and The Quantum Mechanics. The former is applicable in the large scale world but breaks down upon reaching the sub-atomic domains in scale of a millionth of a millionth of an inch where Quantum Mechanics take over. Hawking try to assimilate both into a single unified theory that could explain everything.
Gravity is central to the concept. Newton breaks the ages old concept of static universe by saying that matter is in static state of rest or moving at constant speed unless acted upon by external force. This is very significant because such understanding shows that all laws of science is as applicable to a static person as per moving person; eg on a moving train. To the person in a moving train, a ball thrown upward would fall down in the same straight up-down path similiar to when he is on the static ground. However to a person on the train station looking at the train, the ball seems to move in a parabolic arch from when the other person throw the ball upward to when the the ball falls down some distance away as travelled by the train in that time. Hence the notion of an absolute position in space is dispelled with. However Newton still belief in absolute time.
Newton's discovery of gravity is central to understanding universe. The planets orbit around the sun by gravitational force. Gravitational force is proportional to matter's mass. As a planet moves, the gravity would pull it back, hence its path curves inward to form an orbit of ellipsical path. This understanding enables us to predict the path of orbiting objects in space quite accurately. However observations show that not everything obey Newton's laws, hence there must error in this understanding.
Then comes Einstein. This guy abandon the concept of absolute time and put forth the General Theory of Relativity in which space and time is relative to the observers at different state of speed; hence each observer has his own time and space. A person travelling nearing the speed of light would come back younger than the other person on earth. This is because the traveller carries his own time which is more elongated, eventhough they age at the same rate. However the speed of light is constant irrespective of the speed of the observers. The speed of light becomes the barrier that cannot be passed by any matter, explained by his famous Equation E = mc2. As mass increases, so too the energy needed to increase its speed. As mass approaches speed of light, the amount of energy needed to increase the speed further approaches infinity which is not possible. As such the speed of light will never be exceeded.
Einstein also claimed that gravity is a very special kind of force created by the space-time warp. Space-time warped in proximity to heavy mass. Hence near celestial bodies, the space-time warp in curved shape. Bodies moving in the space-time warp still follow a straightline path but it is in the curved space called geodesic which is the shortest or longest path between 2 nearby points. Following the geodesic, the body appears to move in orbit as if by a force named gravity.
The next great finding of the 20th Century is that the Universe is expanding. Hubble's work on measuring the size and distance of distance galaxies by measuring the brightness of the stars lead to the finding that the spectra emitted by distance stars were quite uniformly shifted towards the red end of the spectra. Using Doppler Effect, this translate to the finding that the universe is expanding, the further away the faster it is expanding. Modern telescopes confirm Hubble's finding and detected 100,000 millions galaxies each containing 100,000 million stars slowly rotating.
Friedmann, 1922 proposes 3 models of the expansion; a) Expand and retract back under gravity b) Expand faster than critical speed so gravity no able to pull it back, hence continues at constant speed c) Expand just above critical speed and constantly reducing rate afterward. From this comes the idea of The Big Bang as the start of the Universe. At Big Bang, the size of Universe is infinitely small and mass infinitely high. This start/beginning is called Singularity. However there is still dispute as to whether singularity is a 'could have happen' or 'must have happen' phenomena. Various possibilities were proposed to avoid the conclusion of singularity which speaks of divine intervention. However they all fall short and at last Penrose discovery on blackholes in 1965 lead to confirmation by Penrose-Hawkings Study in 1970 that The Universe Must Start at Singularity.
However, all science theories are based on assumption that space-time that is smooth and almost flat. At Big Bang, the curvature of Space-Time must approach infinity because of the infinitely small and infinitely heavy mass of the founding universe. Hence all science theories must break down at Singularity (Big Bang). This follows that TIME MUST BEGIN at Singularity whence the laws of science start to form....
Next Chapter will be on Quantum Mechanics..

Hari minggu tgl 25 Oktober 2009, setelah kopdar dengan para blogger di Pesta Blogger 2009, saya diundang untuk sharing tentang blog dan creative writing di Pusat Perfilman Haji Umar Ismail. Saya ngebahas tentang How to be a Cool Blogger. Materinya sebenernya pengen dishare di sini tapi kok susah banget uploadnya ya (hampir 20 MB). Event ini diselenggarakan oleh para Multipliers yang punya nama Pena Lectura (salah satunya Gita) dan didukung oleh Lingkar Pena Publishing House serta Halaman Moeka Publishing House.
Bicara blog yang bagus, pasti nggak lepas dari content atau isi blog-nya itu sendiri. Mau dibawa kemana blog kita? Ya itu sangat tergantung dengan passion yang ada di diri kita. Misalnya saya sukanya jalan-jalan, nggak mungkin saya nulis di blog saya tentang geologi. :D Passion sangat kita butuhkan untuk menambah semangat dan ke-konsisten-an kita dalam ngeblog. Banyak loh yang blog-nya terlantar karena pemiliknya lagi 'nggak mood' atau nggak semangat :D
Tapi saya juga pernah kok ngeblog tentang financial, gosip artis mancanegara dan tentang pernak pernik perkawinan. Tapi itu murni untuk kebutuhan pekerjaan. Contentnya mudah didapatkan melalui riset di Google. Tinggal gimana kita mengemasnya kembali :)
Nah, karena passion saya udah keliatan yaitu di bidang buku, travelling, fotografi, makan, dll, jadinya blog saya pun mulai pecah menjadi blog lain sesuai dengan kategori yang saya ingin tulis. Tapi Salsabeela.com tetap menjadi rumah bagi kesemua blog saya. Di sinilah 'pusat kehidupan online' saya. Jadi meskipun pemiliknya sibuk Twitteran atau Facebook-an, rumah ini masih selalu siap menerima tamu hihi :P
Ok content sesuai dengan passion kita udah punya, sekarang tinggal strategi agar pengunjung yang membaca blog kita lebih optimal, nggak cuma teman kita yang itu-itu aja, namun juga pengunjung-pengunjung yang 'nyasar' dari Google. Ini yang dinamakan Search Engine Optimization (SEO).
Untuk itu kita bisa menggunakan Google Insights for Search. Minggu lalu saat pencarian, di daerah Jakarta sedang ngetrend pencarian tentang keyword berikut: UFO, Jakarta, Calon Menteri, Kabinet SBY
Pada saat latihan, saya meminta teman-teman peserta workshop untuk menuliskan blog post yang menceritakan sebuah gambar yang saya sediakan serta mengandung keywords di atas. Hasilnya beragam. Semuanya bagus-bagus, and I'm not being nice here. Bener-bener bagus :) Yang menurut saya paling bagus adalah milik Mbak Dian Mardi karena mengambil sudut pandang yang nggak biasa. Check it out:

Harapan pada Celah Pagar Calon Menteri
Saya tidak pernah menghitung, berapa langkah yang sudah saya kumpulkan untuk menelusuri panjangnya jalan di Jakarta ini. Saya memang tidak pernah berniat untuk itu. Lelah. Saya sudah terlalu melongok setiap celah pagar rumah-rumah berpagar tinggi, berharap pemiliknya sedang ingin mengurangi tumpukan barang bekasnya di gudang mereka, yang mungkin lebih luas dari kamar kontrakan saya.
Sering saya membayangkan, kira-kira apa pekerjaan orang-orang yang rumahnya berpagar tinggi yang sering saya intip-intip ini. Dari barang-barang bekasnya, dari luas garasinya, bahkan dari tanaman yang tumbuh di halaman rumahnya. Mungkin saja dia calon menteri di kabinet SBY.
Gerobak dan kaki ini satu-satunya kendaraan saya. Jangan bayangkan kecepatannya seperti UFO. Bahan bakarnya saja hanya singkong goreng dan air. Tapi dari langkah saya dan gerobak ini saya menguntai harap, semoga pemilik lapak mau membeli barang-barang bekas yang saya beli hari ini.

Workshop selanjutnya dilanjutkan oleh Imazahra my Multiply pal, penulis buku Long Distance Love, yang sangat ceria dan bersemangat membahas Creative Writing in Non-Fiction. Many thanks buat panitia yang hangat dan baik banget, serta thanks buat buku-buku dari Lingkar Pena Publishing House, pasti saya review nanti. Let's meet again sometime ^^

Semua foto workshop ini diambil oleh my mom-in-law alias ibu mertua. Begitu denger kata ibu mertua, biasanya langsung pada keringet dingin and rasanya langsung masuk angin. Makanya pas nyokap datang sambil bawa kamera dan dengan setia menemani, teman-teman di workshop pada heran. Kok akur sih? Kok anak-anaknya dibiarin bisnis nggak jelas bu? Hehe
Komentar suami pas diceritain kejadian itu: Kayaknya pada kebanyakan nonton sinetron deh. :D
Well, mungkin karena sekarang jaman udah maju and komunikasi lebih lancar. Papa, Mama, Papa mertua, dan Mama mertua semua punya Facebook, Blog dan Twitter. Sehingga bisa kontrol anaknya dengan cara yang modern alias 2.0. Kalo lihat dari Facebook anaknya beraktivitas dengan baik dan bahagia, orang tua mana yang nggak senang dan lega hatinya. Dengan begitu, nggak perlu cerewet lagi atau banyak kritik yang bikin anak jadi bete, trus juga jadi nggak perlu berprasangka karena fakta sudah terdisplay dengan baik via update status :D Cukup sekali-sekali komentar di Wall Facebook anaknya aja untuk mensupport anaknya. Bukan begitu, Moms and Dads? :D
More update on our marriage life bisa dilihat di blog yang ini.
Artikel terkait event:
http://lovusa.multiply.com/journal/item/206
http://kesabaran.multiply.com/journal/item/279
http://natayacr.multiply.com/journal/item/37
http://dianmardi.multiply.com/journal/item/268
Orignal From: Antara Blog Workshop dan Ibu Mertua
Sejak kelas 1 SMA gue sudah mulai belajar nyetir. Yang ngajarin bokap di lapangan bola gitu. Dan terus di situ aja selama berbulan-bulan, sampai akhirnya pakde gue yang berani nyemplungin gue ke jalan raya. Seneng banget saat akhirnya bisa nyetir. Bisa bebas bawa mobil bareng temen-temen cewek. Bisa keliatan lebih gaul :D
Tapi itu dulu. Sejak gue 'masuk' ke Jakarta tahun 2000 silam, gue sudah nggak berani lagi bawa mobil. Pernah gue bawa selama hampir sebulan di jalanan Jakarta dan terpaksa menyerah! Medannya ngeri banget! Selain angkutan umum yang 'berani mati', pengendara sepeda motor maupun mobil di Jakarta udah pada nggak liat-liat spion lagi kalau mau belok atau nyalip. Langsung hajar bleh! Berharap orang lain di jalanan punya indra ke-enam atau nyawa sembilan. ~.~
Sejak gue married, dan memperhatikan cara suami gue bawa mobil, gue jadi tau apa aja yang musti diperhatikan agar aman di jalanan. It's Driving Skills For Life!
- Pake sabuk pengaman. Kedengerannya sepele, tapi penting banget. Sabuk pengaman mungkin akan membuat baju kita sedikit kusut, tapi jika terjadi benturan dari depan, maka posisi kita akan lebih aman. Katanya 76% kematian dalam kecelakaan adalah karena tubuh terlempar keluar dari mobil. Hiyy *Naudzubillah* Di Jakarta sih tingkat pemakaian sabuk pengamannya udah bagus (karena Polisi rajin razia? hehe). Mudah-mudahan daerah lain menyusul!
- Jangan SMS Sambil Nyetir. Sekarang siapa yang nggak pernah kirim nelpon/SMS/email sambil nyetir? Hari gini kita emang super sibuk. Yang lebih mengkhawatirkan smartphone sekarang bentuknya semakin aneh-aneh dan sulit untuk bisa dipake dengan satu tangan. Miris rasanya liat suami gue ngetik email di iPhone-nya sambil tetap melaju kencang. Apalagi dia pernah jalan 160 km/jam SAMBIL MOTRET via iPhone dan NGUPLOAD foto yang barusan dia ambil ke FACEBOOK. Dasar gila >.<; Gue benar-benar berharap Allah melindungi suami gue dari semua kegilaan-kegilaannya. Amiin.

And like they said: It takes 8,460 bolts to assemble an automobile, and one nut to scatter it all over the road.
Have a safe journey!
Orignal From: Tips Aman Berkendara di Jalan Raya